Halo bloggers,piye kabare? Apik aye tho? (Apa kabar ,baik 2 aja kan).aku mau ucapin terima kasih dan salut tuk masyarakat Tulung agung,Kediri,Dan Blitar panjenengan sedoyo.Selama krg lebih 6 x aku ,mas Ivan dsn mamaku ,sosialisasi baik itu ke komunitas ibu 2 senam,perdesaan,padepokan pencak silat,pesantren ,yayasan yatim piatu, komunitas ludruk,komunitas campursari,komunitas guru dsb.Satu moment dalam hidup aku yg ngga bs aku lupain adl senyuman dan tatapan mata mrk yg sedemikian tulus menerimaku layaknya “Bocahe Dewe,Dulure Dewe”,yg membuat tim kecil ku ini sgt di Wong KE!aku selalu mengingat ‘pesan moral’dari bhs tubuh mereka yg sgt Menghargai Tamu,Sopan Santun dlm pergaulan desa,dan Mempunyai fleksibilitas dlm berkehidupan;mereka hidup selalu optimis ,terbukti jarang sekali ada pengemis di pinggir 2 jalan,kebersihan di jalan 2 kota dan sifat gotong royong antar warga yg msh sgt kental,contoh wkt aku dtg ke setiap desa,mereka menyambut aku layaknya “Org penting,”mereka menyusun kursi atau tikar bareng,beli jajanan pasar dg cara siapa yg mampu ,Dialah yg membeli;tuk di nikmati 1 desa,kalo berbicara dgn teman ,selalu pake bahasa yg enak didengar telinga,dan selalu Ramah dgn Tamu spt aku ini,meski dlm rangka sosialisasi .tidak ada kondisi yg kesannya mereka “minta “sesuatu .Dan aku Inya Allah akan menyampaikan catatan sosialisasiku pada siapapun Caleg yg berhasil msk ke DPR tuk memperjuangkan Aspirasi dan Cita 2 masy Jatim 6,krn itulah Janjiku.Terahkir ,aku ingin mrk sehat terus, dan selalu dlm lindungan Allah SWT.Amin
Terima kasih Jatim 6
happy sunday
Hola mi bloggers,como esta? Long time no see ya!hari ini ,hari yg paling santai,bangun jam 9 an,siram tanaman,sarapan,nonton tv en pergi deh!emang paling enak kalo kita bisa menikmati setiap moment dlm hidup ini!ohya bloggers,aku mau cerita hasil sosialisasi aku kemarin di tulung agung ,blitar dan kediri;selain ketemu dgn konsituen aku,ada pelajaran hidup yg bs aku petik,yaitu Rakyat sgt ingin Perubahan dalam berkehidupan.contoh nya di desa tambak,kecamatan krosok ,kabupaten sendang tulung agung;mereka yg mayoritas buruh tani ingin harga pupuk lbh terjangkau spy bs menguntungkan petani dlm penjualan.faktanya byk masy yg tdk tau ttg BOS,PNPM mandiri,Jamkesmas,BLT dll,shg mereka tdk tau prog pro rakyat selama ini,juga ttg jalan 2 menuju ke desa mereka yg ingin segera diperbaiki,dan yg paling penting masalah sosialisasi Pemilu tgl 9 april nanti termasuk tata cara mencontreng.ohya ada juga kunjungan aku ke desa Bendo wulung Blitar ,dimana mereka mengundang aku tuk menghadiri acara Campur sari ;sbg kesenian tradisional jawa timur,wahhh ternyata campursari itu sgt kreatif ya,krn perpaduan alat musik modern spt Drum dan Keyboard di mix dgn gamelan ,suling dll.Ahkirnya aku malahan joget dan nyanyi Kopi dangdut diiringi musik ala campursari,ha 3 .meskipun nadanya agak krg pas,krn musisi campur sari jrg memainkan lagu dangdut! Besoknya full mengujungi ibu 2 senam dr srengat,wates,pare dan tuLung agung tuk senam bersama,dan alangkah surpraisenya ternyata ibu 2 senam disana sgt “fashion”.baju 2 senam nya yg model 2 terbaru ,berarti mereka memang sgt modern dlm style berpakaian! Soal gaya senam? Wow jgn tanya lagi deh,mrk sgt paham ” Belly Dance,Tae bo, dan Salsa,”.berarti wanita 2 Indonesia sdh sgt menyadari pola hidup sehat! Yah itulah bloggers pengalamanku selama beberapa kali sosialisasi,Intinya ,apa yg aku catat selama sosialisasi ini memberikan PR dlm benak aku, bhw jadi atau tidaknya aku di parlemen bkn suatu hal yg membuatku ter “Obses”,krn bila terpilih ,aku akan memperjungkan aspirasi mrk dan bila tidak terpilih pun,hasil catt sosialisasi ini akan aku sampaikan kepada teman 2 seperjuangan spt mas Anas U dll yg se “Dapil” tuk melanjutkan aspirasi mrk.Doakan ya!tx u
Buku ‘Venna Melinda’ Guide to Good Living’
Mulanya saya menganggap diri saya baik-baik saja. Saya merasa sudah benar menjalani hidup saya. Menjadi istri, ibu, artis, dan diri sendiri. Tapi berbagai komentar yang mampir di telinga saya pada akhirnya membuat saya merevisi ulang diri saya.
“Venna Melinda itu ‘keras’ dan tidak menyenangkan.”
“Venna Melinda itu sombong, ketus, dan jarang tersenyum.”
Ada lagi yang mengatakan, “Venna Melinda itu saklek. Nggak rileks, dan curigaan!”
Mungkin sebagian orang yang pernah menerima kritik seperti saya memilih tak acuh dan terus menjalankan apa yang dinamakan to be myself. Tapi saya berpikir, apa jadinya kalau selama ini saya telah membuat banyak orang merasa tak nyaman, tersinggung, sakit hati, dan marah? Sementara saya tidak menyadari itu sama sekali.
Berubah untuk kebaikan bukanlah hal mudah. Rasa gengsi, tidak terima atau
egois kadang membelenggu kita dalam sikap salah yang abadi.
Tapi, dengan kesadaran, saya telaah diri sendiri. Ternyata saya memang mendapati banyak temuan berarti. Misalnya, suatu hari saya bercakap-cakap dengan seorang wartawan. Cara saya bicara dan bahasa tubuh yang saya tunjukkan rasanya wajar-wajar saja. Tapi si wartawan nyeletuk, ”Iya deh mbak Venna, tapi jangan marah gitu dong!”
Saya terpana. Ada yang tidak beres pada diri saya. Bahkan pada saat saya rileks pun lawan bicara masih menganggap saya ”keras” dan bertemperamen tinggi.
Maka mulailah saya mencoba untuk berkompromi dengan ”kehendak” lingkungan. Ya, bisa saja saya bertahan dengan prinsip to be yourself dan tak peduli apakah orang lain akan menerima kita atau tidak. Tapi jangan lupa, kita berada di tengah lingkungan. Kita bersosialisasi. Dan banyak hal dalam hidup kita berkaitan dengan orang lain. Saya pun bertekad untuk mencoba mengubah sikap-sikap diri yang membuat orang lain tidak nyaman. Inilah poin-poin yang saya pelajari:
1. Selidiki apa yang menjadikan kita bertahan dalam sikap itu.
Pada diri saya, penyebabnya adalah masa lalu yang “keras”. Ini saya sadari setelah melewati banyak perenungan. Sejak kecil saya sudah terlatih memproteksi diri lantaran keadaan yang sungguh memprihatinkan. Akibatnya, saya tumbuh menjadi wanita yang “tidak santai”. Saya menjadi sangat kritis, terlalu birokratif (bahkan untuk urusan yang enteng saja), tidak kenal basa-basi, dan terkesan sangat tegas. Saya selalu berpikir, kalau bukan diri saya yang membela diri sendiri, siapa lagi?
Ada orang yang bilang begini, “Mbak Venna ini kenalnya hanya hitam dan putih. Tidak kenal ada abu-abu….” Ya, karena secara naluriah saya harus melindungi diri sejak kecil, saya memang selalu mengharapkan ketegasan dari banyak hal dalam hidup. Jangankan surat kontrak kerja, urusan belanja pembantu saja saya tegasnya kayak pengacara. Inilah
yang membentuk karakter diri saya seperti ”tembok” tampak tidak ramah dan ujung-ujungnya jadi menyebalkan. Setelah menyadari kekurangan ini, saya mendorong diri untuk melakukan perubahan karena membuat orang-orang di sekeliling merasa tersinggung buat saya adalah dosa.
Sedikit-sedikit sekarang saya mulai dikomentari positif. Jadi banyak senyum, lebih rileks, lebih ringan dalam berpikir. Yah…, apa salahnya sih kita berusaha jadi lebih baik kalau itu akan memperbaiki keadaan.
2. Manfaatkan persahabatan
Jika Anda bisa menyebut lima saja sahabat (yang setia dalam suka dan duka), maka Anda terbilang beruntung. Sebab, orang-orang dekat yang mengelilingi kita dengan cinta ada-
lah sarana yang kondusif agar kita bisa memacu diri menuju lebih baik. Satu catatan penting, sahabat yang baik adalah mereka yang tidak hanya bersedia mencurahkan cinta kasih pada kita, tapi juga berani melontarkan kritikan.
Saya beruntung dikaruniai keluarga yang mau memperhatikan saya. Juga sahabat-sahabat, termasuk anak buah yang tak canggung mengeluarkan pendapat. Dari mereka, saya banyak mendapat masukan.
Satu saran yang penting untuk direnungkan adalah jangan selalu berpikir diri kita akan memihak diri kita. Seringkali kita tidak menyadari bahwa musuh terbesar yang mengacak-acak hidup sebetulnya bercokol dalam diri sendiri. Kekerasan hati kita. Kita selalu berpikir bahwa kitalah yang paling benar, dan mengesampingkan pendapat orang lain.
Teori bahwa mendengarkan adalah proses belajar, itu sangat ampuh. Dengan demikian kita akan mengetahui yang salah dan yang benar.
Saya pernah terjebak dalam label yang amat mengecilkan hati. Anak keluarga broken home. Energi positiflah yang menyelamatkan saya!
Saya ingat. Ketika itu tahun 1992. Piala kemenangan sebagai None Jakarta masih hangat bertengger di atas kepala saya. Kaki saya dengan getar bahagia melangkah turun ke balik panggung. Di dalam remang-remang, Mama menanti saya. Gurat wajahnya sulit diartikan.
”Venna, Mama sudah bercerai dari Papa… Tadi siang keputusan sidang sudah
selesai…”
Saya terkesiap. Kalimat Mama membawa dua makna buat saya. Pertama, saya
lega. Sangat lega. Akhirnya hiruk-pikuk pertengkaran yang selalu terjadi antara Papa
dan Mama sudah berakhir. Kedua (ini yang menjatuhkan mental saya), saya akan
menyandang label yang tidak disukai anak mana pun, yakni produk keluarga broken
home. Anak korban perceraian.
Buat saya, ini tekanan yang cukup berat. Ada perasaan minder yang luar biasa. Orang lain pasti akan menaruh pandangan negatif pada kami. Meski Mama kemudian menghibur saya, namun batin saya tetap bertahan dengan rasa malu itu.
Tahu apa yang kemudian saya lakukan? Malam setelah berdoa, saya menangis. Saya memohon pada Tuhan agar saya diberikan pikiran yang waras, yang jernih. Saya ingin menunjukkan pada orang lain bahwa anak korban perceraian tidak selalu identik dengan narkoba, minuman keras, pergaulan malam, dan ugal-ugalan. Takut, takut sekali saya saat itu! Saya khawatir diri saya lengah, kemudian saya terjerumus ke dalam dunia yang salah.
”Rasa ikhlas terhadap apa yang sudah terjadi menyisakan perasaan yang lapang dan tenang. Ini penting untuk menjadi fondasi gerak Anda ke depan…”
Adalah karunia Tuhan, bahwa ketakutan hebat itu pada akhirnya melahirkan energi yang positif. Dalam segala hal yang saya lakukan, ada dua misi yang selalu tertanam dalam benak saya, yakni membahagiakan Ibu saya dan mencetak prestasi. Itu saja.
Dorongan untuk melakukan yang terbaik, membuat saya—tanpa sadar—mau banyak belajar. Ketika ikut ajang pemilihan None Jakarta dan Puteri Indonesia, saya benar-benar serius mempersiapkan diri. Saya memiliki target. Bukan untuk menang, tapi agar orang tahu, saya ikut ajang itu bukan untuk gaya-gayaan atau iseng-iseng berhadiah.
Pencapaian demi pencapaian saya raih atas nama rasa ingin membuktikan bahwa anak broken home juga bisa berprestasi. Semangat ini tidak lepas-lepas dari diri saya. Bahkan juga ketika saya akan menikah dengan suami saya, Ivan Fadila, sudut hati kecil saya tetap berteriak: ”Saya akan buktikan pada keluarga Ivan, bahwa anak keluarga broken home juga bisa jadi istri dan ibu yang baik!”
Pada akhirnya saya menyadari benar bahwa semangat untuk lari dari label
broken home memang membawa energi positif untuk memacu prestasi. Tapi ada lagi
energi yang lebih positif, yakni jika saya melakukan itu dengan ikhlas dan semangat
murni, bukan lantaran ketakutan didakwa buruk.
Saya yakin, di antara Anda juga ada yang masih ”terjebak” dalam perasaan
memiliki ”label” buruk. Saran saya, kembalikan dulu diri kita ke dalam kondisi yang
netral. Tanpa takut, tanpa dendam, tanpa malu. Dan mulailah bergerak!
10 cara memurnikan pikiran dengan efektif!
Strategi boleh sama, tindakan boleh seragam, usaha boleh sama kuat. Tapi pikiran murni akan membedakan hasil yang diperoleh!
1. Jangan terpaku pada hari kemarin dan hari ini. Tuhan memberikan kita hari-hari selanjutnya untuk dimanfaatkan bagi kebaikan. Jangan sia-siakan itu.
2. Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Melakukan sesuatu tanpa beban, tanpa nafsu, dan tanpa dendam ingin mengalahkan. Kita harus bisa membedakan antara harapan dan nafsu. Bedanya tipis
sekali.
3. Jangan memelihara rasa marah. Banyak orang sangat menikmati perasaan emosi yang meluap-luap dan terus menyuburkan itu. Padahal pada saat yang sama, energi positif
tengah tersedot oleh energi marah.
4. Bangun semangat membahagiakan orang lain. Tanpa sadar Anda akan banyak melakukan hal dengan dasar positif.
5. Luangkan waktu untuk melakukan perenungan. Saya percaya, diam adalah kondisi yang dahsyat untuk memberi makan pada pikiran kita.
6. Makan yang baik dan berolahraga. Dalam tubuh yang kuat tersimpan jiwa yang sehat, ini bukan sekadar slogan.
7. Mau menyerap teladan dari sekitar. Banyak berdialog, membaca bukuyang baik,mendengarkanpengalaman orang lain. Kita salah kalau berpikir bahwa diri kita
adalah poros kebenaran.
8. Bersenang-senanglah! Saya punya hobi menari, menyanyi, senam. Dan saya merasakan semangat ajaib muncul tiba-tiba tiap kali habis melakukan hobi
menyenangkan itu.
9. Jangan dijerumuskan target absolut. Saya punya kebiasaan untuk merancang plan A, plan B, plan C dan seterusnya. Kerap kali kita dibenturkan pada kekecewaan lantaran gagal dalam satu tujuan tunggal yang ingin diraih. Padahal ada “jalur-jalur” lain
menuju keberhasilan.
10. Berdoa, berdoa dan berdoa.
![]()
![]()
Mau tau kelanjutan ceritanya??? untuk lebih jelasnya beli saja Buku ‘Venna Melinda’ Guide to Good Living’ Pengarang: Alberthine Endah. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Buku Venna Melinda “Guide To Good Living” (Bagian 4)
Kenapa saya menceritakan kisah masa lalu saya?
Karena saya ingin mengajak Anda untuk berdamai dengan kondisi hidup seburuk
apa pun itu. Inilah modal yang sangat penting agar kita bisa merasakan denyut hidup
yang lebih jernih, lebih positif. Jika pikiran kita digelapkan oleh rasa kecewa terhadap
hidup yang dijalani, sampai kapan pun kita tidak akan pernah merasa bahagia.
Saya beberkan contoh kehidupan saya, agar proses berbagi kita menjadi riil.
Saya yakin, barangkali Anda memiliki masa kecil atau masa lalu yang lebih baik dari
saya. Tapi setiap manusia pasti memiliki masalah, sekecil apapun itu. Barangkali
Anda pernah dikecewakan pasangan, bercerai, pernah ditipu rekan bisnis hingga
trauma tak mau berbisnis lagi, atau mungkin Anda pernah mengalami kehidupan
yang sangat sulit. Pendeknya, setiap orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri.
Memiliki ketidakpuasan. Memiliki kekecewaan. Dan, bukan tidak mungkin, masingmasing dari kita menyimpan depresi tersembunyi.
Inilah yang ingin saya bagi dalam buku ini. Semangat untuk memaafkan masa
lalu atau kondisi yang buruk, dan mulai merancang kehidupan yang lebih baik.
Jangan kubur masa lalu kita….
Banyak orang yang memiliki masa lalu buruk atau pernah mengalami kejadian
traumatik, berpikir seperti ini: kubur masa lalu, jangan pernah diingat-ingat lagi.
Saya berpikiran sebaliknya. Buat saya, mengubur masa lalu atau peristiwa yang
buruk bukanlah penyelesaian. Karena tanpa disadari, sikap itu hanyalah bentuk
penipuan pada diri kita untuk beranggapan bahwa kita tidak pernah menjalani masamasa itu.
Ketika saya beranjak remaja, saya sempat merasa malu. Apa jadinya kalau
teman-teman tahu orangtua saya selalu bertengkar? Apa jadinya kalau mereka juga
tahu, masa kecil saya serba berkekurangan?
Perasaan semacam itu menjadi beban dalam hidup saya. Tanpa bisa dicegah, itu
terlihat dari aura penampilan saya. Murung, cepat sedih, dan mudah marah. Namun
lambat laun saya menyadari, perasaan dendam pada masa lalu sesungguhnya
seperti racun yang akan mengotori pikiran bersih yang dibutuhkan untuk bangkit.
Ya! Lambat laun saya mencoba berdamai dengan masa lalu. Memang, kadangkadang saya masih menangis, setiap kali bayangan-bayangan traumatik di masa
lalu berkelebat di benak saya. Namun kemudian saya mensyukuri bahwa Tuhan
telah berbaik hati memberikan saya ujian lebih awal. Oleh karenanya, ketika di saat
sekarang ini saya mendapat cobaan atau ujian, saya tidak mudah runtuh.
Kesadaran saya untuk mengenang masa lalu sebagai masa yang benar-benar
ada dan penting di dalam hidup juga butuh keikhlasan. Sekarang saya bisa rileks
bercerita tentang masa-masa itu tanpa beban lagi. Saya tidak memusuhi masa-masa
pahit itu. Saya menempatkannya sebagai bagian penting di dalam hidup.
Memaafkan Papa adalah perjuangan yang sama sekali tidak mudah. Bagaimana
saya harus berakrobat antara mempertahankan rasa respek dan bakti anak pada
ayahnya, dan menghadapi kenyataan bahwa ia berulangkali menyakiti hati kami.
Saya memenangkan yang pertama. Bagaimanapun ia adalah ayah saya. Dan saya
sangat menghormatinya.
Anda tahu? Rasa ikhlas terhadap apa yang sudah terjadi menyisakan perasaan
yang lapang dan tenang. Ini penting untuk menjadi pondasi gerak Anda ke depan.
Do something, and see the miracle!
Perubahan tak mungkin terjadi kalau kita hanya berdiam diri. Salah satu hal yang
makin menjerumuskan seseorang yang frustrasi ke dalam hidup yang makin gelap
adalah sikap pasif.
Menurut saya, diam, pasif, apatis, putus asa adalah penyempurna kegagalan. Tetapi bergerak, usaha, semangat, dan harapan adalah penyelamat keadaan. Prinsip itu saya pegang teguh.
Ketika remaja, saya mencoba melakukan sesuatu di luar aktivitas standar anak
remajalain. Tujuannya?Sayainginbangkitdanmembuktikanbahwakeluarga yang tidak
harmonis tidak berarti sanggup membunuh masa depan anak-anak di dalamnya.
”Banyak orang yang memiliki masa lalu buruk atau pernah mengalami kejadian traumatik, berpikir seperti ini: kubur masa lalu, jangan pernah diingatingat lagi.”

Inisiatif untuk menjaga diri (perilaku dan penampilan) sudah muncul kala itu.
Saya mencoba membuat foto-foto diri yang bagus dan menjajal audisi demi audisi.
Saat itu di pertengahan tahun 1980-an film Indonesia sedang marak dengan film-
film remaja. Banyak anak remaja seusia saya mengimpikan bermain dalam film yang
populer.
Jika saya memelihara rasa rendah diri dan putus asa, mustahil harapan untuk
mendobrak keadaan muncul. Saya yakin keajaiban akan datang kalau saya mau
bersabar dan terus berusaha.
Benar saja! Suatu ketika ada seseorang yang mencolek lengan saya di sebuah
lobi bioskop. Seorang wanita muda. Ternyata dia seorang pencari bakat. ”Kamu mau main film?” tanyanya ramah. Tawaran itu jadi kenyataan. Saya bermain di film Catatan Si Boy. Sebuah film yang sangat meledak di kala itu. Tak tanggung-tanggung, saya mendapat peran sebagai pacar Si Boy! Jangan ditanya bagaimana bangganya perasaan saya. Buat saya itu pencapaian yang luar biasa!
Dampaknya terhadap kepercayaan diri saya sungguh dahsyat. Saya makin
percaya diri untuk mencoba hal-hal lain, semisal menjadi model dan bintang iklan.
Keberanian dan keyakinan itu yang akhirnya mengantar saya pada kemenangan
di ajang None Jakarta, Puteri Indonesia dan berkiprah di industri hiburan. Sesuatu
yang seperti mimpi saja rasanya.
Satu hikmah yang sangat penting dari pengalaman itu adalah jangan berpikir
bahwa diri kita kecil. Perasaan bahwa ita mampu, punya daya dan sanggup, adalah
bensin yang manjur menyemangati ”gerak”. Dan sekali kita mendapat kesempatan,
maka semangat lain pun akan bermunculan. Inilah yang ingin saya bagi, jangan
pernah membiarkan potensi Anda terkunci oleh ketidakpercayaan diri yang berlebihan. Karena hanya kita yang bisa membuka pintu rencana kita. Selama kita membiarkannya tertutup, maka pintu tersebut akan selalu tertutup.
Berubah SIKAP Tidak Selalu Salah
To be yourself memang
penting, tapi apa artinya kalau
itu membuat orang lain tidak
nyaman.
Hari Raya Idul Fitri 1429 H
ASS WR WB,MY BLOGGERS ,SAYA DAN KELUARGA INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1429 H ,MINAL AIDIN WAFAIZIN,MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.MUDAH MUDAHAN SEGALA AMAL DAN IBADAH KITA DITERIMA OLEH ALLAH SWT.AMIN .
Buku Venna Melinda “Guide To Good Living” (Bagian 3)
Berjuang menjemput cahaya
Saya jelas merasa kasihan pada Mama. Meski ia melawan dan tak gentar meneriakkan kalimat-kalimat marah pada Papa, tapi buat saya Mama kelewat sabar.
Sekali lagi, barangkali lantaran tempaan hidup yang keras membuat otak kanakkanak saya cepat sekali memahami persoalan orang dewasa. Satu logika yang saya
pertanyakan saat itu adalah: kenapa Mama tak mau pergi dari Papa? Kata ”cerai”,
belum saya kenal saat itu. Tapi kata ”lari” adalah hal yang sangat dimengerti anak
kecil mana pun. Kenapa pemukulan, pertengkaran, ketidaknyamanan, dan kondisi
serba kekurangan tidak cukup membuat Mama keluar rumah, pergi, dan berjuang
hidup tanpa Papa.
Apa komentar Mama?
Di sinilah saya mengerti bagaimana hakikat cinta. ”Semua ini adalah kesalahan
Mama juga, Nak. Mama sudah terlanjur mencintai Papa, dan melahirkan kamu.
Mama tidak boleh cengeng dan lari dari kesulitan hidup… Sekali Mama memutuskan
menikah, Mama harus jalani konsekuensinya. Kelak keadaan akan jadi baik. Sekarang ini Papa sedang khilaf. Dia pasti akan berubah….”
Saya tercenung saat itu. Kalimat Mama memang menenangkan saya, tapi
pertengkaran tidak juga berhenti. Piring terbang bukan hal yang aneh di rumah
saya. Di saat anak-anak kecil lain sedang dininabobokan orangtua, atau bermain
boneka, saya selalu mendekam di sudut kamar, menutup telinga untuk tidak mendengar pertengkaran orangtua, dan… walaupun mata saya sudah kebal untuk tidak
menangis, tapi seluruh perasaan saya selalu teriris-iris.
Masih sangat jelas dalam benak saya, ketakutan paling hebat yang pernah saya
rasakan. Mungkin usia saya baru menginjak 6 tahun saat itu. Tanpa saya ketahui
ternyata Mama mengidap penyakit yang sangat serius. Paru-paru basah. Kondisi
rumah yang gonjang-ganjing dan keletihan bekerja rupanya memicu penyakit Mama
jadi kian parah. Pada suatu dini hari, saya mendengar lenguhan Mama. Ketika saya
dekati, Mama sudah terjatuh dengan napas tersengal-sengal.
Perasaan saya langsung campur-aduk. Kondisi Mama sangat mengenaskan.
Ia bahkan langsung tidak sadarkan diri. Mental saya benar-benar merosot. Sederhana saja dalam pikiran saya: jangan-jangan Mama mati. Itu adalah ketakutan yang
sangat hebat.
Saya berjuang mengusir rasa takut. Berlari keluar rumah, dan mengetuk pintu
rumah nenek. Bayangkan anak kecil 6 tahun! Keluar dari rumah dalam kondisi gelap gulita pada dini hari adalah sesuatu hal yang sulit dilakukan anak sekecil itu.
Satu-satunya pikiran yang hinggap di kepala saya adalah, sebisa mungkin menyelamatkan nyawa Mama. Apa jadinya hidup saya tanpa Mama!
Selama Mama dirawat di Rumah Sakit Surabaya selama 3 bulan, batin saya disiksa oleh ketakutan yang sangat mencekam. Dalam pikiran saya waktu itu, biarlah saya hidup ketakutan, asalkan ada Mama di sisi saya.
Usia 10 tahun, Papa mengajak kami pindah ke rumah kecil di Pondok Labu. Setelah itu kami juga sempat tinggal sebentar di rumah kecil di kawasan Mampang, dan Bintaro. Kondisi ekonomi masih memprihatinkan.
Waktu yang akhirnya memperbaiki kehidupan kami. Bantuan dari keluarga besar Mama di Surabaya datang. Tak berapa lama, keluarga Mama membelikan rumah yang layak di bilangan Pondok Indah. Tapi Mama memutuskan untuk tetap tinggal
”Saya berusaha menumbuhkan kepercayaan diri. Menjadi remaja normal, memiliki teman, bersosialisasi.” di Bintaro, sementara rumah di Pondok Indah dikontrakkan, untuk memenuhi biaya sehari-hari.
Baru saya tahu, sebetulnya Mama adalah putri dari pengusaha terpandang di
Bali. Kakek dan nenek saya cukup berada. Rupanya, selama ini Mama berkeras untuk tidak meminta bantuan orangtuanya karena ingin membuktikan bahwa ia cukup
sportif menjalani kehidupan pernikahan. Rupanya penderitaan Mama terbaca oleh
orangtuanya. Bantuan dengan cepat datang.
Di rumah kontrakan di Bintaro, Mama hamil kedua adik saya. Ada kejadian lucu
yang saya ingat sewaktu Mama hamil. Karena hamilnya sangat besar, Mama tidak
bisa jongkok di WC. Padahal beliau tak punya uang untuk mengganti WC jongkok
dengan kloset duduk.
Akhirnya Mama berkreasi. Beliau meletakkan kursi kayu yang ringan, dan melubangi bagian tempat duduk, sehingga menyerupai kloset duduk. Tiap kali ingin ”ke
belakang”, Mama meletakkan kursi bolong itu di atas WC! Ada-ada saja cara Mama
menyiasati keadaan.
Di Bintaro, saya menjalani masa remaja dan beranjak dewasa. Terhadap dua
adik saya, Reza dan Ayie, sikap sangat protektif saya lakukan. Saya tidak mau adikadik saya mengalami hal pahit yang saya rasakan dulu. Ingatan-ingatan perih di
masa lalu membayangi tumbuh kembang masa remaja saya.
Seperti ingin “membayar” kepahitan saya di masa kecil, hampir tiap sore saya
temani dua adik saya bermain. Kadang, saya juga membelikan mereka jajanan.
Bakso atau siomay. Sebelum disuap pada mereka, saya emut dulu bakso di mulut
saya, agar rasa pedasnya hilang. Sampai hal-hal yang paling kecil, saya berusaha
melindungi adik-adik saya dari kemungkinan tersakiti.
Tidak mudah menjadi diri saya saat itu. Memaafkan sikap Papa, merasakan
penderitaan Mama, dan berusaha bangkit dari tekanan adalah ”bumbu” dalam masa
remaja saya yang semestinya diisi dengan keceriaan, pikiran bersih dan spirit. Saya
berusaha menumbuhkan percaya diri. Menjadi remaja normal, memiliki teman,
bersosialisasi.
Seringkali, di sekolah, saya masih tak bisa melepaskan kebiasaan saya. Termenung sendirian. Untungnya, saya punya sahabat-sahabat yang sangat setia kawan.
Dengan mereka, saya melewati keceriaan yang memang seharusnya mewarnai
usia saya. Kami naik bajaj bersama-sama, makan di pinggiran, nonton, jalan-jalan.
Jika tidak dibantu oleh lingkungan, barangkali sampai sekarang saya akan jadi
Venna yang pemurung.
Apakah saya menjadi marah pada Papa? Sama sekali tidak. Waktu akhirnya
memperlihatkan, sesungguhnya Papa adalah laki-laki yang punya rasa cinta. Kondisilah yang dulu membuat Papa tidak bisa tampil seperti layaknya seorang suami
dan Papa yang baik. Saya belajar sangat banyak dari Mama, tentang bagaimana
memberi maaf pada keadaan yang tidak berpihak terhadap diri kita.
Dengan kedewasaan yang tumbuh lebih cepat dari lazimnya remaja lain, saya
berusaha memahami bahwa keluarga yang tidak harmonis bukanlah sesuatu yang
pantas menghancurkan hidup. Mati-matian saya berusaha bangkit menjadi remaja
yang bisa melakukan sesuatu yang berarti.
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya baru turun dari panggung kemenangan
sebagai None Jakarta 1992, Mama menemui saya di belakang panggung. ”Ven, Mama sudah cerai dari Papa. Tadi siang sidang selesai…”
Apakah itu titik finis? Tidak. Buat saya itu adalah jalan keluar. Mama menemukan
ketenangannya. Papa menemukan jalannya. Tapi jika saya boleh mengulang hidup,
sebenarnya saya menginginkan mereka menjadi baik, bersatu dan tidak bercerai.
Bagaimanapun saya yakin keduanya memiliki cinta. Dan Papa adalah sosok yang
terjebak dalam sikap-sikap yang salah, tapi dia tidak seutuhnya bersalah.
Pada bulan Oktober tahun 1995, Mama menikah lagi dengan Robby Tampubolon,
seorang pria yang sangat baik dan mencintai kami seperti anak-anaknya sendiri.
Syukurlah, Mama akhirnya menemukan pelabuhan yang damai hingga saat ini.
Sampai detik ini, saya sangat mengagumi ketegaran Mama. Dan saya, masih
tetap mencintai dan merindukan Papa, ayah kandung saya.
“Sampai detik ini, merindukan ayah saya. saya sangat mengagumi ketegaran ibu saya.
Dan saya masih tetap mencintai dan“
Masa lalu boleh menyakiti, hari ini
kondisi belum berganti, tapi hari esok
mungkin saja lebih punya hati.
(bersambung)
Buku Venna Melinda “Guide To Good Living” (Bagian 2)
Hidup sulit
Saya tak ingat, pada usia berapa saya sudah menyadari bahwa keadaan rumah
saya sungguh berbeda dengan rumah-rumah teman yang lain. Setiap sore saya
melihat anak-anak sebaya bermain dengan tawa lepas, dan berlari-lari di sekitar
orangtua mereka. Wajah mereka seperti tidak menyimpan beban.
Foto: Dok. Pribadi
Sementara saya, satu-satunya teman bermain saya adalah Pedro, anjing setia.
Jika saya punya roti, kami makan berdua. Pedro separuh, saya separuh. Saya akan
berlama-lama duduk di teras menikmati apa saja yang bisa saya lihat di jalanan dan
halaman rumah tetangga. Saya selalu merasa malas masuk ke dalam rumah. Aura
yang ada di dalam rumah selalu membuat saya ketakutan.
Karena orangtua saya belum mampu hidup mandiri, kami menumpang di rumah
nenek (orangtua ayah saya) di kawasan Pangkalan Jati. Untuk tempat tinggal kami
bertiga, nenek memberikan area semacam paviliun di belakang rumah utama. Kami
punya privasi, karena paviliun itu punya pagar sendiri.
Ekonomi yang sangat sulit menjadi pewarna hidup saya semasa kanak-kanak.
Sebenarnya nenek mau membantu, tapi Mama berkeras untuk belajar mandiri.
Sementara Papa masih kuliah dan belum bekerja apapun juga. Kondisi keuangan
yang menyedihkan membuat hidup kami diikat dengan keterbatasan.
Keadaan seperti itu membuat pertengkaran mudah tersurut. ”Ketakutan” adalah
kata biasa buat saya. Hampir tiap hari saya selalu menggigil ngeri tiap kali orangtua
saya bertengkar. Mereka bisa berkelahi hanya karena persoalan yang sepele saja.
Suara pertengkaran begitu memekakkan telinga. Belum lagi bunyi pukulan yang
bikin bulu kuduk saya berdiri.
Begitu tanda-tanda pertengkaran muncul, biasanya saya bersembunyi di balik
tirai, atau duduk di pojok tempat tidur. Saya ikuti teriakan demi teriakan, hujatan,
makian yang terlontar. Kalau sudah begitu, mata saya terpejam dengan perasaan
gemetar. Saya sangat takut. Saya bisa merasakan kesedihan Mama. Sangat menyedihkan lantaran saya sama sekali tak punya daya untuk menolong.
Dengan kondisi begitu, jangan harap saya tega memaksa Mama untuk membelikan saya mainan atau jajanan. Tidak melihat pemukulan saja, itu sudah bagus.
Lagi pula, dalam kenyataannya, orangtua saya memang tidak punya uang untuk
membelikan saya benda-benda khas anak kecil, apalagi piknik ke tempat rekreasi.
Untuk biaya makan saja, kami mengalami kesulitan.
Ya! Mungkin terdengar sulit dipercaya, kalau saya bahkan sudah belajar menahan lapar pada usia balita! Mama berjuang agar kami bisa makan tiga kali sehari,
dengan melakukan penghematan. Seringkali pada siang hari, perut saya sudah keroncongan lagi. Tak ada uang jajan. Tak ada cemilan di rumah. Saya hanya bisa
menahan air liur melihat anak-anak tetangga mengerubungi tukang siomay atau
bergerombol di depan warung jajanan. Alih-alih membeli mainan, sekadar untuk
membeli balon pun Mama tidak punya uang.
Jangan heran bila urusan makan enak hanya bertengger di dalam mimpi. Saya
masih ingat betul, hal yang membuat saya girang adalah jika Mama mengajak saya
ke supermarket. Tiap bulan Mama belanja kebutuhan sehari-hari dalam jumlah yang
sangat terbatas. Pergi ke supermarket membuat saya bisa melihat macam-macam
makanan enak, buah-buahan, kue kaleng, cokelat, roti, selai, kembang gula. Saya
menatap puas-puas dan berkhayal bisa membelinya suatu saat.
Lama-lama acara melihat-lihat makanan enak di supermarket berubah jadi
keinginan tak tertahankan. Suatu kali saya pergi menemani Mama ke sebuah
supermarket. Mata saya langsung membesar melihat tumpukan buah nangka yang
dikemas dalam kotak plastik. Betapa menggiurkannya buah nangka yang segar
itu. Sepertinya, rasanya manis. Saya sempat mengajukan permintaan pada Mama.
”’Ketakutan’ adalah kata yang biasa buat saya. Hampir tiap hari saya
selalu menggigil ngeri tiap kali orangtua saya bertengkar. Mereka bisa
berkelahi hanya karena persoalan yang sepele saja. Suara pertengkaran
begitu memekakkan telinga. Belum lagi bunyi pukulan yang bikin bulu
kuduk saya berdiri.”
untuk dibelikan nangka. Jawabannya bisa ditebak. Uang yang pas-pasan, mana
mungkin dihamburkan untuk membeli nangka? Mama tentu lebih mementingkan
membeli beras, gula, dan makanan pokok lain.
Tahu apa yang saya lakukan? Keinginan yang sulit dibendung membuat saya
nekat mengambil sekotak nangka dan memasukkannya dengan susah payah ke
dalam saku baju saya yang kecil. Lalu diam-diam saya lahap nangka dengan rakus
dan nikmat. Sampai tandas! Bungkus kosongnya saya buang di sekitar situ.
Selamat? Tidak. Seorang satpam yang rupanya melihat perbuatan saya, dengan
cepat melaporkan pada Mama. Tentu saja, Mama sangat malu dan akhirnya membayar seharga nangka yang saya habiskan. Di rumah, rentetan kemarahan Mama
meluncur tak tertahankan. Berkali-kali dia berteriak bahwa kemiskinan bukan alasan
yang bisa diterima untuk mencuri. Saya menangis ketakutan dan minta maaf.
”Venna pingin makan nangka, Ma…” Saya terisak.
Mama memeluk saya dan ikut menangis.
Barangkali kasus pencurian itu membuat Mama sedih dengan kondisi yang
ada. Mama lalu tak buang waktu lagi untuk segera bekerja. Saya ingat, waktu itu
ia menjelaskan pada saya bahwa ia sudah mendapatkan pekerjaan. Dia bilang, kegiatannya akan membuatnya sering meninggalkan saya. Tapi saya harus belajar
berani, kata Mama. Belakangan saya tahu, mama bekerja di salon tak jauh dari
rumah.
Dengan penghasilan Mama, walau kecil, saya bisa sedikit-sedikit merasakan
perubahan baik. Mama bisa membelikan saya baju-baju lucu seperti yang dikenakan
anak-anak tetangga. Saya juga bisa jajan, walau tidak berlebihan.
Setiap sore saya duduk manis di teras menunggu Mama pulang. Ditemani Pedro,
saya sering menyanyikan lagu milik Yoan Tanamal.
Aku sedih, duduk sendiri
Mama pergi, Papa pergi
O itu dia, mereka datang
Aku senang, hatiku riang…
Lagu itu sangat berkesan hingga sekarang. Mengingatkan saya pada penantian
seorang anak kecil. (Kelak di kemudian hari, saya berusaha untuk tidak sering meninggalkan anak-anak saya. Bisa saya rasakan, bagaimana nelangsanya anak-anak
kecil yang sulit ketemu ibunya.)
Sementara itu pertengkaran demi pertengkaran terus berlanjut di rumah. Papa yang—barangkali—masih tak rela masa mudanya terampas oleh pernikahan, nyaris
keluar malam setiap hari. Dia baru kembali pada pagi hari. Bukan hanya Mama yang dirugikan Papa. Saat itu saya mulai belajar menabung. Uang receh-receh sisa jajan saya cemplungkan ke dalam celengan tembikar berbentuk ayam, dengan harapan jika sudah penuh akan saya berikan pada Mama.
Harapan tinggal harapan, suatu kali Papa tanpa ba bi bu masuk ke kamar,
mengambil celengan dan…prakkkk! Celengan ayam itu pecah, ia mengambil semua
uang receh yang ada. Itulah pertama kalinya saya benar-benar marah pada Papa.
Bukan takut. Bagaimana mungkin dia sampai hati melakukan sesuatu yang saya
tekuni hari demi hari. Dari Mama saya tahu, Papa kehabisan uang untuk membeli
bensin. Duh!
(Bersambung)
Buku Venna Melinda “Guide To Good Living”
bukan cuma hari ini
Masa kecil saya
yang penuh dengan
tangis dan ketakutan
membuat saya tak berani
memimpikan apa-apa.
Maka ketika mahkota
Puteri Indonesia
bertengger di kepala saya,
hidup rasanya menghujani
saya dengan sesuatu
yang tidak pernah
saya kenali:
mimpi yang nyata.
Suatu hari di dalam mobil menuju tempat penyelenggaraan Miss Universe di Manila, Ibu Mooryati Soedibyo dengan hati-hati menanyakan sesuatu pada saya ”Venna, apa benar katanya kamu datang dari keluarga broken home?”
Tanpa ragu saya mengangguk. Setelah itu meluncurlah cerita tentang seluruh hidup saya. Dengan segala cerita pahitnya. Ibu Moor tekun mendengarkan cerita saya. Setelah itu beliau mengatakan, ”Venna, Ibu bangga, sebagai anak yang datang dari keluarga yang begitu sulit, kamu tetap percaya diri bahkan bisa menyandang gelar Puteri Indonesia.”
Ucapan Ibu Moor hingga kini terus terngiang di telinga saya. Niat bahwa kelak saya akan membagi cerita tentang pelajaran berharga dari hidup yang saya jalani pun tumbuh. Tak hanya pada Ibu Moor, saya juga ingin berbagi pada Anda.
Berbahagialah Anda yang memiliki masa kecil indah dan mengesankan. Tapi jangan kecil hati bila Anda punya masa kecil yang muram dan menyedihkan.
Sejak kecil saya adalah saksi dari pemandangan yang sangat membingungkan anak kecil mana pun. Orangtua saya menikah muda. Mama, Made Ayu, dan Papa, melangsungkan pernikahan tak berapa lama setelah mereka lulus SMA. Mereka harus menikah karena Mama sudah mengandung saya.
Faktor perkawinan yang terlalu dini itu memberikan kondisi yang kurang menyenangkan buat saya. Saya tidak mengatakan bahwa Papa dan Mama tidak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi saya. Tapi saya sadari kini, pada saat itu keduanya masih terlalu muda dan—boleh jadi—belum mengerti bagaimana menjalani kehidupan rumahtangga. Imbasnya menyentuh ke mana-mana.
Kondisi finansial kami menyedihkan, harmoni dalam rumah nyaris tak ada, dan saya menjadi saksi dari sekian banyak pertengkaran mulai dari tingkat ringan sampai yang menakutkan.
(Bersambung)
When Venna Melinda was a Putri Indonesia of 1994
te amo mi bloggers
buenos noches bonita amiga,en mi amigo.como esta? aku hari ini kebtln lg pingin nulis ttg komentar all my bloggers ,baik yg sgt 2 support aku maupun yg msh blm .he 3,kenapa aku berpenampilan sexy dlm kurun wkt 5 th terahkir ini,semata 2 krn profesi aku sbg salsa performer dan singer plus instructor.jelas dlm setiap perform, hrs ditunjang dg outfit yg sesuai dg tarian dan koreografi.makanya pakaian hrs pas di bdn dan ada efeknya,spt rumbai,bling 2 dsb.jadi itu hanya salah satu atribut aku selain sepatu dan yg lain.jd bukan hal berlebihan yg dibuat tuk arah ke nagatif,krn diluar pekerjaanku dan image latin style yg aku buat;aku tetep venna melinda yg sgt care dan sayang ma anak 2 damn mi marido;ivan fadilla.apa yg aku lakukan adlh semata mata totalitas pekerjaanku skrg.krn profesional dan totalitaslah yg bs membuat kt survive di zaman sulit spt ini,tp ternata ALLAH maha baik;karena selalu aja ada petunjuk dan ridhoNYA di setiap langkahku.buktinya aku dapat jalan tuk selalu melakukan pekerjaan yg pasti terbaik untukku dan keluarga,contohnya di saat aku terus mencoba merintis di dunia tarik suara plus tari salsa,ternyata ada tawaran tuk memasuki dunia politik .apakah ini jalan yg terbaik untuk kehidupanku? WALLAHUALAM.yg jls ALLAH MAHA PENGASIH.krn kalo mau flashback kehidupanku wkt kecil; yg serba sulit,boro 2 mengkhayal jd org yg enak kehidupannya,krn tuk melihat org tuaku akur,tdk fighting,ato sekedar makan ayam ato camilan yg enak2 itu hanya sekedar impian.dlm buku aku yg berjudul “venna melinda,guide to good living”jelas semua tertulis ,knp aku sedemikian perfeksionis dlm melakukan pekerjaan apapun .bkn krn ingin melakukan kejelekkan,krn toh masy bs menilai dgn cerdas ,apakah menilai org hanya bs di patokkan dr penampilan luar saja?bukankah wkt adl jawaban plg tepat tuk membuktikan segalanya? tapi aku menyadari bhw hidup adlh proses,dan proses itu pasti mengalami perubahan.nah bloggers, terima kasih tak terhingga krn komentar 2 kalian adlh investasi moril buat aku.mudah 2an kt bs lbh dekat scr emosional.




